Di suatu pagi, di dalam ruangan berukuran 3X2 meter, dengan dua buah jendela besar selebar 2 meter, sebuah pohon organik yang hingga kini belum diketahui apa nama tanaman itu, dan sebotol air mineral (sebenarnya ingin diganti dengan segelas kopi jika ada air panas).
Jemariku kembali menari, menggoreskan lembar-lembar impian yang selalu kuharapkan akan menjadi sebuah kenyataan. Upss..tapi sebentar, sepertinya aku tergoda untuk mencoret-coret tumblr ku yang saat ini jarang sekali kutengok, yah tepatnya tumblr ini sempat vakum selama lebih dari sebulan, soalnya pemiliknya sekarang sedang berlagak menjadi cewek sok sibuk :P
Argghh..seperti saat ini, sepertinya aku harus menjawab sebuah panggilan telepon, dan bencinya aku jika diramalkan ini akan jadi sesi curhat yang membosankan.
Logika Kehidupan
Ah, entah apalah itu hingga akhirnya dua kata itu tergelincir indah dalam pikiranku dan menuntunku untuk kembali berkutat dengan panel-panel persegi ini.
Terlalu banyak keegoisan yang telah kulakukan terhadap diriku sendiri, memonopoli hati, pikiran, tubuh, dan semua elemen yang menyatu membentuk diriku. Tampak egois sekali aku jika kali ini aku tak memanjakan diriku dengan kehidupan yang “nyaman”.
Eummm..sebelumnya aku merasa senang, karena saat mengetik tulisan ini, ada alunan lagu Bad Romance milik Lady Gaga yang menemaniku, dan aku pastikan hanya ada lagu ini dalam playlist ku. Ah ini salah satu keegoisanku yang membuat telingaku mendengarkan lagu ini sampai muak.
Fyi, ternyata udah beberapa waktu ini aku tak menyentuh tumblr ku, aku sibuk pergi kesana-kemari, melakukan suatu hal yang seringkali menyenangkan, atau kadang juga tega membuatku kecewa. Pokoknya kalau diibaratkan permen, maka tak salah lagi rasanya adalah nano nano.
Yups..perjalanan seolah keegoisan terbesar dalam kehidupanku, ada sensasi mengasyikkan dengan sebuah perjalanan, mungkin jika diibaratkan sebagai Rebecca si shopaholic, maka aku ini travelholic. Tapi untungnya aku tak membuat kartu kredit khusus untuk setiap perjalananku.
Semua keegoisanku akhirnya membuatku kembali untuk menulis, dan kembali ke kota ini. Entah ada magnet apa yang membuatku kembali dan kembali lagi ke kota ini meski aku sudah berada di pulau para dewa itu. Seorang teman bahkan menanyakannya padaku, tapi untungnya aku mempunyai jawaban jitu yang aku yakin amat ampuh.
Sebelum melangkah kembali kesini, aku yakinkan diriku adalah seorang makhluk yang telah dilengkapi dengan otak dan logika yang baik… yah, at least semuanya kini berjalan dengan logika lagi dan aku jatuh cinta pada logika melebihi apa pun, meski pada akhirnya aku menolak sebuah pintu kamar dengan poster Einstein yang sedang menjulurkan lidahnya, karena kupikir itu amat tak logis.
Sudah sebulan kuhirup udara disini, udara panas bercampur pekat polusi kemacetan yang membuat tempat ini seperti kota-kota besar lainnya yang pernah kusinggahi. Yah, mungkin sebuah tempat layak disebut sebuah kawasan perkotaan jika memenuhi beberapa kriteria, dan salah satunya adalah kemacetan.
Whatever lah tentang kemacetan, polusi dan tetek bengeknya. Aku jadi teringat seorang sahabat yang sangat semangat jika sudah membahas tentang masalah lingkungan seperti ini, mulai dari sampah yang berjubel, polusi, dan penyakit lingkungan masyarakat yang bercokol di depan mata namun amat tak dihiraukan oleh si empunya mata. Ah, malas aku mengingatkan si empunya mata untuk lebih peka terhadap lingkungan. Lebih baik aku menjaga lingkunganku mulai dari diriku sendiri.
Yahahaha…
Aku bukan seorang yang persuasif untuk mempengaruhi kehendak orang lain. Jadi cukup mempersuasi diriku sendiri saja, karena hidup ini adalah kebebasan.
Pertama, aku selalu mengingatkan diriku untuk tak menggunakan kendaraan bermotor jika jarak yang ditempuh masih sanggup kucapai dengan langkah kaki mungilku. Hmmm, 2-3 KM mah sakiceup deh *sombong*. 10 KM masih sanggup gowes 15 menit *lebih sombong*. 10 KM ke atas angkat tangan deh *nyerah* dan baru naik kendaraan umum.
Oiyah, hampir semua orang yang tanya aku pergi kerja naik apa, dan saat aku bilang aku ke kantor dengan jalan kaki, mereka langsung soak dong. Eumm, tapi jujurnya aku lebih soak loh liat ekspresi dan tanggepan mereka. Aduh, peliiiss deh yah, jarak tempat tinggal aku sama kantor itu gak lebih dari 1 KM, masa ia aku harus naik motor??? Yah edan juga sih kalo aku sampe naik motor.
Ahh..kalo udah ngebahas beginian, jadi iri sama orang-orang di Jepang yang lebih memilih untuk berjalan kaki dan naik transportasi umum ketimbang naik kendaraan pribadi.
— khansamaria